Kabel Laut 6.870 Km, Jalan Baru Menuju Indonesia Terkoneksi
InspirasiKalbar, Opini – Di tengah kebutuhan internet yang semakin besar, pembangunan infrastruktur digital tidak lagi cukup hanya mengandalkan jaringan di daratan. Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan konektivitas yang mampu menjangkau berbagai wilayah secara lebih luas. Karena itu, rencana pembangunan jaringan kabel laut sepanjang 6.870 kilometer yang melibatkan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) bersama sejumlah mitra menjadi menarik untuk diperhatikan.
Berdasarkan materi yang bersumber dari EmitenNews, proyek tersebut merupakan pembangunan SGI Cable System yang melibatkan INET, Surge, FiberHome, Nokia, SGI, dan NTT Group. Jaringan ini dirancang menghubungkan 14 titik pendaratan dari Jakarta hingga Sorong, dengan kapasitas yang disebut mencapai 25 Tbps dan ditargetkan siap beroperasi pada akhir 2028.
Menurut saya, proyek seperti ini bukan sekadar persoalan memasang kabel di dasar laut. Lebih jauh, pembangunan kabel laut merupakan bagian penting dari fondasi ekonomi digital Indonesia.
Bukan Sekadar Kabel, tetapi Infrastruktur Masa Depan
Selama ini, pembahasan mengenai transformasi digital sering berfokus pada aplikasi, kecerdasan buatan, media sosial, pusat data, dan layanan berbasis internet. Padahal, semua teknologi tersebut membutuhkan satu hal yang sama, jaringan internet yang kuat dan stabil.
Kabel bawah laut memiliki peran penting dalam membawa lalu lintas data dalam jumlah besar antardaerah maupun antarwilayah. Jika kapasitas jaringan meningkat, peluang untuk menghadirkan koneksi yang lebih baik juga semakin terbuka.
Dalam materi tersebut, jaringan SGI Cable System disebut akan menghubungkan wilayah dari Jakarta hingga Sorong. Rute tersebut menjadi menarik karena memperlihatkan bagaimana pembangunan infrastruktur digital dapat diarahkan untuk menghubungkan kawasan Indonesia dari bagian barat hingga timur.
Artinya, pembangunan konektivitas tidak hanya berbicara mengenai kota-kota besar. Infrastruktur semacam ini berpotensi menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem digital di wilayah yang selama ini membutuhkan peningkatan konektivitas.
Tantangannya Tidak Kecil
Namun, optimisme terhadap proyek kabel laut juga perlu disertai sikap realistis. Infrastruktur sepanjang ribuan kilometer tentu bukan proyek sederhana. Kabel yang berada di bawah laut menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kondisi geografis, proses pembangunan, pemeliharaan, keamanan jaringan, hingga kebutuhan investasi yang besar. Setelah kabel selesai dibangun pun, pekerjaan belum berakhir. Infrastruktur tersebut harus dijaga agar dapat beroperasi secara berkelanjutan.
Selain itu, keberhasilan proyek tidak seharusnya hanya diukur dari panjang kabel atau besarnya kapasitas data. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa besar manfaat konektivitas tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dan dunia usaha.
Internet berkapasitas besar akan lebih bermakna apabila mampu mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan publik, pusat data, komputasi awan, kecerdasan buatan, hingga berbagai layanan digital lainnya.
Dari Jakarta hingga Sorong
Salah satu hal yang menarik dari proyek ini adalah cakupan konektivitasnya. Menghubungkan Jakarta hingga Sorong menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur digital memiliki dimensi geografis yang besar.
Indonesia tidak hanya membutuhkan internet cepat di pusat-pusat ekonomi. Wilayah timur juga membutuhkan akses terhadap infrastruktur digital agar dapat berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi berbasis teknologi.
Karena itu, pembangunan jaringan kabel laut dapat dilihat sebagai investasi jangka panjang terhadap pemerataan konektivitas digital. Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada bagaimana jaringan utama nantinya terhubung dengan infrastruktur telekomunikasi di tingkat daerah.
Dengan kata lain, kabel laut adalah salah satu bagian dari ekosistem. Ia perlu didukung jaringan darat, pusat data, operator telekomunikasi, serta layanan internet yang dapat menjangkau pengguna akhir.
Peluang bagi Ekonomi Digital
Jika proyek ini berjalan sesuai rencana dan mampu mencapai kapasitas yang disebutkan dalam materi, keberadaan jaringan tersebut berpotensi membuka ruang yang lebih besar bagi pertumbuhan kebutuhan data di Indonesia.
Perkembangan cloud computing, artificial intelligence, data center, streaming, perdagangan digital, dan berbagai layanan berbasis internet akan terus membutuhkan jaringan dengan kapasitas tinggi.
Di sinilah pembangunan infrastruktur seperti SGI Cable System menjadi relevan. Infrastruktur digital yang kuat dapat menjadi fondasi bagi aktivitas ekonomi yang semakin bergantung pada pertukaran data. Namun, masyarakat tentu tidak hanya membutuhkan kapasitas besar. Mereka juga membutuhkan koneksi yang stabil, terjangkau, aman, dan dapat diakses secara merata.
Menurut saya, ukuran keberhasilan proyek ini pada akhirnya bukan sekadar apakah 6.870 kilometer kabel berhasil terbentang di dasar laut. Ukuran yang lebih penting adalah dampaknya setelah jaringan tersebut beroperasi.
Apakah kualitas koneksi antardaerah meningkat? Apakah biaya akses internet dapat menjadi lebih efisien? Apakah pelaku UMKM di daerah mendapatkan peluang digital yang lebih besar? Apakah sekolah, perguruan tinggi, layanan kesehatan, dan pemerintah daerah ikut merasakan manfaatnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena pembangunan infrastruktur digital seharusnya memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar meningkatkan kapasitas jaringan. Kabel laut mungkin berada jauh di bawah permukaan air, tetapi manfaatnya seharusnya dapat dirasakan hingga ke permukaan kehidupan masyarakat.
Jika pembangunan jaringan ini berjalan sesuai rencana hingga akhir 2028, proyek tersebut dapat menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang Indonesia dalam memperkuat fondasi ekonomi digital. Tantangannya kemudian adalah memastikan konektivitas tersebut benar-benar diterjemahkan menjadi akses, peluang, dan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.(Fahrodin)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini










