Dunia Kerja Berubah karena AI, Keterampilan Apa yang Mulai Dicari?
InspirasiKalbar, Jakarta — Perubahan teknologi mulai menggeser cara pekerjaan dilakukan. Kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) yang sebelumnya banyak digunakan untuk mencari informasi dan membantu pekerjaan administratif kini masuk ke berbagai aktivitas profesional, mulai dari menganalisis data, membuat ringkasan, menyusun materi, hingga membantu pengambilan keputusan.
Perubahan tersebut ikut memengaruhi keterampilan yang dibutuhkan perusahaan. Pekerja tidak hanya dituntut memahami teknologi, tetapi juga mampu menggunakan hasil kerja AI, memeriksa informasi, mengambil keputusan, dan berkomunikasi dengan orang lain.
Laporan PwC AI Jobs Barometer 2026 menunjukkan lowongan kerja yang membutuhkan keterampilan AI tumbuh 69 persen, sedangkan pasar kerja secara keseluruhan tumbuh 9 persen. Laporan yang menganalisis lebih dari satu miliar iklan lowongan kerja di 27 negara dan wilayah itu juga mencatat premi upah rata-rata untuk keterampilan AI mencapai 62 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi AI mulai memiliki nilai di pasar kerja. Namun, kebutuhan perusahaan tidak berhenti pada kemampuan teknis.
Keterampilan Manusia Tetap Dibutuhkan
Dalam laporan Future of Jobs 2025, World Economic Forum (WEF) menyebut kemampuan berpikir analitis sebagai keterampilan inti yang paling banyak dibutuhkan perusahaan. Sekitar tujuh dari 10 perusahaan yang disurvei menempatkan kemampuan tersebut sebagai keterampilan penting.
Setelah berpikir analitis, keterampilan yang banyak dianggap penting adalah ketahanan, fleksibilitas dan kelincahan, kepemimpinan serta pengaruh sosial. Pemikiran kreatif dan kemampuan memahami diri sendiri juga termasuk dalam lima keterampilan inti yang mendapat perhatian.
WEF memperkirakan 39 persen keterampilan inti pekerja akan berubah hingga 2030. Perubahan itu membuat kemampuan belajar dan menyesuaikan diri menjadi bagian dari perkembangan karier, terutama ketika teknologi baru terus masuk ke tempat kerja.
AI juga tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap kemampuan manusia. Dalam analisis yang dimuat WEF, dari lebih dari 2.800 keterampilan yang dinilai, tidak ada yang dianggap memiliki kemampuan sangat tinggi untuk digantikan oleh AI generatif saat ini. Sebanyak 69 persen keterampilan berada pada kategori kemampuan penggantian yang sangat rendah atau rendah.
Keterampilan yang membutuhkan empati, mendengarkan secara aktif, interaksi manusia, serta pekerjaan fisik memiliki keterbatasan untuk dilakukan oleh AI generatif. Sebaliknya, kemampuan yang berhubungan dengan pengolahan informasi digital, seperti beberapa tugas membaca, menulis, matematika, penambangan data, dan aplikasi pembelajaran mesin, memiliki tingkat kemungkinan penggunaan AI yang lebih tinggi.
Kemampuan Digital Menjadi Dasar
Perubahan tersebut membuat literasi teknologi semakin penting. Pekerja tidak harus selalu menjadi pengembang AI, tetapi perlu memahami cara teknologi digunakan dalam pekerjaan mereka.
WEF menempatkan AI dan big data sebagai keterampilan yang diperkirakan tumbuh paling cepat hingga 2030. Diikuti oleh jaringan dan keamanan siber serta literasi teknologi.
Dalam praktik kerja, literasi AI dapat mencakup kemampuan memahami fungsi alat AI, menyusun instruksi yang jelas, mengevaluasi keluaran AI, dan mengetahui kapan hasil dari sistem tersebut perlu diperiksa kembali.
PwC juga mencatat bahwa perusahaan yang paling mampu menggunakan AI mengalami pertumbuhan jumlah karyawan sebesar 52 persen, dibandingkan 36 persen pada perusahaan dengan tingkat paparan AI yang rendah. Pada kelompok perusahaan dengan tingkat pemanfaatan AI tertinggi, pertumbuhan produktivitas tenaga kerja mencapai 163 persen dibandingkan 2018.
Data tersebut menggambarkan bahwa penggunaan AI tidak selalu berkaitan dengan pengurangan jumlah pekerja. Dalam sejumlah perusahaan, teknologi digunakan untuk meningkatkan produktivitas dan memperluas kemampuan tenaga kerja.
Pekerja Pemula Menghadapi Perubahan
Perubahan keterampilan juga terasa pada pekerjaan tingkat awal. Pekerjaan entry-level selama ini menjadi pintu masuk bagi lulusan baru untuk memperoleh pengalaman sebelum mengambil tanggung jawab yang lebih besar.
Analisis PwC terhadap 2,4 juta posisi entry-level di Amerika Serikat menunjukkan bahwa posisi yang paling terpapar AI kini tujuh kali lebih mungkin meminta keterampilan yang sebelumnya identik dengan pekerjaan tingkat senior, seperti kepemimpinan, kreativitas, penilaian, dan interaksi tatap muka.
Jumlah lowongan entry-level dengan tuntutan keterampilan tersebut meningkat 35 persen sejak 2019. Pada periode yang sama, posisi entry-level lainnya turun 10 persen.
Perubahan ini berkaitan dengan kemampuan AI mengerjakan sebagian tugas rutin yang sebelumnya dapat menjadi bagian dari pekerjaan awal seorang pekerja. Ketika tugas tersebut dapat dibantu teknologi, perusahaan dapat lebih cepat meminta pekerja pemula mengerjakan bagian yang membutuhkan penilaian dan interaksi.
Karena itu, kemampuan dasar seperti komunikasi, kerja sama, penyelesaian masalah, dan pengambilan keputusan menjadi semakin relevan bagi pekerja yang baru memasuki dunia kerja.
Belajar Tidak Berhenti Setelah Lulus
Masuknya AI ke dunia kerja juga mengubah cara keterampilan dikembangkan. Pendidikan formal menjadi salah satu tempat memperoleh dasar pengetahuan, tetapi kebutuhan keterampilan dapat berubah setelah seseorang memasuki dunia kerja.
WEF mencatat 50 persen tenaga kerja yang disurvei telah mengikuti pelatihan sebagai bagian dari strategi pengembangan dan pembelajaran perusahaan. Angka tersebut meningkat dari 41 persen pada 2023.
Pelatihan dapat berupa peningkatan kemampuan yang sudah dimiliki atau pembelajaran keterampilan baru. Dalam konteks AI, bentuknya dapat mencakup literasi AI, analisis data, keamanan digital, hingga keterampilan yang berhubungan dengan komunikasi dan kepemimpinan.
Bagi perusahaan, perubahan tersebut berarti kebutuhan untuk menyesuaikan pelatihan dengan pekerjaan yang terus berkembang. Bagi pekerja, perubahan keterampilan membuat proses belajar tidak berhenti pada saat seseorang memperoleh ijazah atau memasuki pekerjaan pertama.
Kemampuan Menggunakan AI dan Memeriksa Hasilnya
Penggunaan AI dalam pekerjaan juga membawa kebutuhan baru, yaitu kemampuan memeriksa hasil. Sistem AI dapat membantu menghasilkan teks, merangkum informasi, mengolah data, atau memberikan pilihan jawaban, tetapi hasil tersebut tetap perlu disesuaikan dengan tujuan pekerjaan dan diperiksa sebelum digunakan.
Kemampuan tersebut berkaitan dengan berpikir analitis. Pekerja perlu memahami masalah yang sedang dihadapi, menentukan informasi yang dibutuhkan, menggunakan teknologi sebagai alat bantu, kemudian menilai apakah hasilnya dapat digunakan.
Keterampilan semacam itu membuat hubungan antara kemampuan teknis dan kemampuan manusia menjadi semakin dekat. Penguasaan AI tanpa kemampuan menilai hasil dapat menghasilkan pekerjaan yang cepat tetapi belum tentu sesuai kebutuhan. Sebaliknya, kemampuan analitis tanpa pemahaman terhadap teknologi dapat membuat pekerja kehilangan sebagian alat yang tersedia di lingkungan kerja baru.
Arah Baru Keterampilan Kerja
Perubahan dunia kerja karena AI tidak berlangsung dalam satu bentuk yang sama di semua bidang. Pekerjaan yang memiliki banyak tugas rutin dan dapat dikerjakan melalui sistem digital akan mengalami perubahan yang berbeda dibandingkan pekerjaan yang membutuhkan kehadiran fisik, interaksi langsung, atau penilaian profesional.
Data PwC menunjukkan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan AI tumbuh jauh lebih cepat daripada pasar kerja secara keseluruhan. Sementara itu, WEF menempatkan AI dan big data, literasi teknologi, berpikir analitis, pemikiran kreatif, serta kemampuan beradaptasi sebagai keterampilan yang semakin penting menuju 2030.
Bagi pekerja, perubahan tersebut memperlihatkan bahwa keterampilan teknis dan keterampilan manusia berjalan berdampingan. Kemampuan menggunakan teknologi menjadi dasar untuk mengikuti perubahan, sedangkan kemampuan berpikir, berkomunikasi, bekerja sama, memimpin, dan terus belajar menjadi bagian dari tuntutan pekerjaan yang berkembang.
Di tengah penggunaan AI yang semakin luas, dunia kerja tidak hanya mencari orang yang mampu menyelesaikan tugas dengan bantuan teknologi. Kebutuhan juga bergerak pada kemampuan memahami masalah, menentukan pilihan, memeriksa hasil, dan menggunakan teknologi sesuai tujuan pekerjaan. Perubahan tersebut membuat keterampilan yang dibutuhkan hari ini terus berkembang mengikuti cara manusia bekerja bersama teknologi. (Jihan Syaswina Aprilia)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini
















