Menjaga Napas Tradisi di Tengah Modernitas: Perjalanan Cagar Budaya Betawi Setu Babakan
InspirasiKalbar, Jakarta — Di sudut paling selatan Kota Jakarta, keriuhan suara klakson kendaraan dan deretan gedung tinggi bertumpuk mendadak berganti dengan deretan pepohonan rindang dan hembusan angin danau. Suara lantunan musik gambang kromong dan petikan gitar tradisional terdengar dari kejauhan, menyapa siapa saja yang melangkahkan kaki memasuki kawasan Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan. Terletak di Kelurahan Srengseng Sawah, Kapanewon atau Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, kawasan ini merupakan benteng pertahanan terakhir bagi kelestarian seni dan kebudayaan otentik masyarakat asli Jakarta. Ditengah pesatnya transformasi Jakarta menuju kota global, Setu Babakan berdiri tegak sebagai ruang hidup yang merawat identitas, sejarah, serta ritme kehidupan Betawi agar tidak hilang tergerus zaman.
Payung Hukum dan Luas Wilayah Cagar Budaya
Keberadaan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan memiliki pijakan sejarah dan aturan hukum yang kuat. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara resmi menetapkan kawasan ini sebagai cagar budaya melalui Peraturan Daerah (Perda) Provinsi DKI Jakarta Nomor 3 Tahun 2005. Regulasi tersebut mengamanatkan perlindungan, pelestarian, dan pengembangan tata kehidupan serta nilai-nilai budaya Betawi secara berkelanjutan.
Secara keseluruhan, kawasan cagar budaya ini membentang di atas lahan seluas kurang lebih 289 hektar. Dari total luas wilayah tersebut, sekitar 70 hektar merupakan aset milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang dikelola secara khusus, sedangkan sisanya merupakan pemukiman warga lokal Betawi yang tetap dipertahankan keaslian tata ruangnya.
Salah satu lanskap utama di kawasan ini adalah keberadaan danau resapan atau setu. Setu Babakan sendiri merupakan danau perairan dengan luas mencapai kurang lebih 32 hektar. Air danau ini bersumber dari aliran Sungai Ciliwung dan difungsikan sebagai kawasan penampungan air, zona perikanan darat, serta sarana rekreasi air bagi para pengunjung.
Tiga Zona Utama Perkampungan Budaya
Untuk memfasilitasi kebutuhan pelestarian budaya sekaligus pelayanan publik, pengelola membagi Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan ke dalam tiga zona pengembangan utama:
- Zona A (Pusat Embrio Budaya dan Museum)
Zona A difungsikan sebagai pusat administrasi, edukasi, dan pertunjukan seni. Di area ini berdiri gedung museum tiga lantai yang menyimpan berbagai koleksi artefak Betawi, seperti pakaian adat, alat musik tradisional, perabotan rumah tangga tempo dulu, hingga maket arsitektur. Selain museum, Zona A dilengkapi dengan amphitheater terbuka untuk pentas seni berkala, rumah adat Betawi berarsitektur rumah kebaya dan rumah bapang, serta amfiteater tepi danau. - Zona B (Pusat Kuliner dan UMKM)
Zona B berfokus pada pengembangan ekonomi kreatif berbasis kuliner tradisional Betawi. Di sepanjang jalur tepi danau, deretan gerai UMKM menyajikan beragam olahan kuliner khas yang dimasak secara tradisional oleh warga setempat. - Zona C (Pengembangan Wisata Komersial dan Edukasi)
Zona C disiapkan sebagai area penataan masa depan yang mencakup replika perkampungan Betawi komprehensif, area agrowisata, serta fasilitas pelatihan kerajinan tangan untuk masyarakat umum dan pelajar.
Arsitektur Khas dan Kehidupan Komunitas Lokal
Suasana khas Betawi langsung terasa dari gaya arsitektur bangunan fisik yang ada di dalam perkampungan. Sesuai ketentuan penataan kawasan, bangunan rumah tinggal warga maupun fasilitas umum dianjurkan untuk menampilkan ornamen arsitektur tradisional. Ciri khas paling menonjol tampak pada bagian teras rumah yang luas dengan ornamen gigi balang papan kayu berukir segi tiga berderet pada lisplang yang melambangkan kejujuran, keuletan, dan kesederhanaan. Struktur rumah didominasi oleh bentuk Rumah Kebaya dengan atap melipat menyerupai lipatan kain kebaya, serta Rumah Bapang yang memiliki teras terbuka tanpa dinding pembatas untuk menyambut tamu.
Bagi masyarakat lokal Srengseng Sawah, Setu Babakan bukan sekadar objek wisata yang didatangi pengunjung. Kawasan ini merupakan ruang hidup sehari-hari di mana warga tetap menjalankan tradisi sosial secara alami. Bahasa Betawi dialek pinggiran (sub-dialek Betawi Ora) masih menjadi bahasa tutur utama dalam interaksi antarwarga, menciptakan atmosfer kehidupan perkampungan yang otentik di tengah padatnya Metropolitan Jakarta.
Pelestarian Delapan Ikon Budaya Betawi

Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan menjadi pusat edukasi aktif dalam melestarikan delapan ikon budaya Betawi yang diatur dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta. Delapan ikon tersebut meliputi:
- Ondel-Ondel: Boneka raksasa setinggi 2,5 meter yang dahulu difungsikan sebagai penolak bala, kini menjadi simbol penyambutan tamu dan pertunjukan seni.
- Kembang Kelapa: Hiasan dari kertas minyak warna-warni yang dililitkan pada lidi, melambangkan keterbukaan dan kemakmuran.
- Gigi Balang: Ukiran kayu berbentuk segi tiga melancip yang terpasang pada lisplang rumah tradisional.
- Baju Sadariah dan Kebaya Encim: Pakaian adat Betawi untuk pria (sadariah) berupa baju koko peci dan sarung terlekat di leher, serta pakaian wanita (kebaya encim) bertangan panjang dengan bordiran khas.
- Kain Batik Betawi: Kain batik dengan motif khas Jakarta, seperti motif salakanagara, rasamala, nusa kelapa, hingga motif jali-jali.
- Kerak Telor: Penganan khas terbuat dari beras ketan putih, telur bebek atau ayam, ebi sangrai, dan serundeng kelapa.
- Bir Pletok: Minuman herbal tanpa alkohol yang terbuat dari racikan rempah-rempah seperti jahe, serai, kayu manis, dan kayu secang yang memberikan warna merah alami.
- Roti Buaya: Roti manis berbentuk buaya yang menjadi simbol kesetiaan dalam prosesi pernikahan adat Betawi.
Di Setu Babakan, para pengunjung tidak hanya dapat melihat delapan ikon tersebut dalam bentuk pameran visual, melainkan dapat mempelajari proses pembuatannya secara langsung melalui lokakarya yang diadakan oleh warga setempat.
Menjaga Resep Warisan lewat Ekonomi Ritel Tradisional

Sektor kuliner menjadi salah satu daya tarik utama yang paling diminati oleh para wisatawan yang berkunjung ke Setu Babakan. Puluhan pedagang kecil dan pemilik industri rumah tangga memanfaatkan area wisata untuk menjajakan resep warisan keluarga yang diwariskan secara turun-temurun.
Aroma wangi ebi sangrai dan kelapa parut membumbung dari wajan baja kecil tempat para pembuat kerak telor meracik pesanan. Di sudut lain, penjual bir pletok mengocok bumbung bambu berisikan cairan rempah hingga mengeluarkan busa putih di permukaannya.
Selain kerak telor dan bir pletok, kuliner langka yang mulai sulit ditemukan di pusat kota Jakarta masih dapat dijumpai di sini. Beberapa hidangan otentik tersebut antara lain:
- Toge Goreng Betawi: Rebusan toge dan mi kuning yang disiram kuah tauco gurih beraroma daun salam.
- Nasi Ulam: Nasi gurih yang ditaburi serundeng kelapa sangrai, kacang tanah, daun kemangi, dan dilengkapi berbagai lauk pauk khas seperti semur daging atau tahu.
- Gabus Pucung: Olahan ikan gabus goreng yang dimasak dalam kuah rempah hitam pekat berbasis buah kluwek.
- Kue Tradisional: Pilihan kudapan manis seperti dodol Betawi yang diaduk secara manual di kawah tembaga besar selama delapan jam, kue geplak, kue sagon, hingga kue kembang goyang.
Aktivitas perdagangan kuliner tradisional ini mampu menggerakkan roda perekonomian warga lokal sekaligus menjaga ketersediaan bahan baku lokal dari perkebunan warga sekitar.
Ruang Pertunjukan Seni Komunitas

Setiap akhir pekan, panggung pertunjukan di Zona A dan area ruang terbuka Setu Babakan diramaikan oleh berbagai penampilan seni bertema Betawi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerjasama dengan sanggar-sanggar seni lokal memfasilitasi panggung bagi para pelaku seni muda untuk menampilkan bakat mereka. Seni pertunjukan yang disajikan mencakup:
- Pertunjukan Tari Tradisional: Tari Sirih Kuning, Tari Yapong, dan Tari Cokek yang dibawakan oleh anak-anak dan remaja dari sanggar tari binaan warga lokal.
- Musik Tradisional: Lambaian nada dari instrumen Gambang Kromong yang memadukan alat musik tiup dan gesek Tionghoa dengan alat musik pukul khas Jawa, serta irama ceria dari pertunjukan Musik Rebana Dor.
- Teater dan Sastra: Pementasan lenong Betawi berbasis cerita rakyat humoris serta tradisi Shohih atau sautan pantun Betawi yang mengundang gelak tawa penonton.
Kehadiran panggung seni berkala ini menjadi sarana regenerasi bagi para seniman muda Betawi agar tradisi pertunjukan lisan dan musik tidak berhenti di generasi tua.
Dampak Ekologis dan Pengendalian Lingkungan
Di samping fungsi budaya dan ekonomi, keberadaan Setu Babakan memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekologis di wilayah Jakarta Selatan. Danau Setu Babakan berfungsi sebagai daerah resapan air (retention basin) yang membantu menampung limpasan air hujan dan meminimalisasi risiko banjir di kawasan sekitar Jagakarsa.
Pemerintah daerah bersama warga sekitar secara rutin melakukan pembersihan danau, penanaman pohon buah-buahan khas Betawi (seperti pohon kecapi, menteng, jambu bol, dan buni), serta pembatasan bangunan permanen di area sempadan air. Vegetasi hijau yang lebat di sekeliling danau menciptakan mikroiklim yang sejuk, menjadikan Setu Babakan sebagai salah satu ruang terbuka hijau (RTH) yang penting bagi kualitas udara kota.
Kompromi Masa Depan Cagar Budaya
Sebagai kawasan yang berada di tengah dinamisnya pembangunan Jakarta, Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman tanpa mengorbankan akar tradisinya. Integrasi teknologi informasi, seperti penerapan sistem pembayaran nontunai (QRIS) pada gerai UMKM serta pemanfaatan media sosial untuk publikasi kegiatan budaya, menjadi langkah nyata dalam merangkul generasi muda. Setu Babakan membuktikan bahwa cagar budaya tidak harus menjadi museum mati yang kaku. Dengan melibatkannya sebagai ruang hidup masyarakat yang aktif, inklusif, dan adaptif, warisan budaya Betawi dapat terus bernapas lega dan menjadi kebanggaan bagi seluruh warga Jakarta di masa kini dan masa depan. (Jihan Syaswina Aprilia)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini











