Sekolah Adat Dayak Kebahan Hadir, Warga Merah Arai Perkuat Warisan Leluhur
InspirasiKalbar, Sintang – Masyarakat Adat Telaga Padong Buket Dayak Kebahan, Desa Merah Arai, Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Sintang, resmi meluncurkan Sekolah Adat Dayak Kebahan dalam rangkaian Pegowai Tutop Tahun Peuma.
Peluncuran sekolah adat mengusung tema “Mewujudkan Warisan Dayak Kebahan untuk Indonesia Berbudaya” sebagai langkah nyata memperkuat pelestarian budaya sekaligus menyiapkan generasi muda yang memahami jati diri dan kearifan leluhur.
Prosesi adat membuka seluruh rangkaian kegiatan. Masyarakat menyambut para tamu di Pagar Ompong, kemudian mengarak rombongan menuju Balai Adat. Selanjutnya, para tokoh menandatangani prasasti Sekolah Adat Dayak Kebahan sebagai penanda dimulainya pembelajaran adat bagi masyarakat Dayak Kebahan.
Usai peluncuran, masyarakat melaksanakan ritual Tutop Tahun Peuma sekaligus membuka tahun adat yang baru. Warga mengelilingi kampung sambil membawa gong dan perlengkapan pertanian sebagai simbol pelepasan segala kesialan, penolak bala, serta doa untuk keselamatan dan keberkahan saat memasuki musim berladang.
Rangkaian acara berlanjut dengan prosesi nyengkolan batu, kemudian masyarakat menikmati makan siang bersama dalam tradisi berontang panjang. Berbagai kuliner khas Dayak Kebahan, seperti Kelopok dan Tekala, tersaji melalui konsep beutong, yakni penyajian daging menggunakan tusukan rotan yang melambangkan keadilan, kebersamaan, dan persaudaraan.
Peluncuran Sekolah Adat Dayak Kebahan mendapat dukungan berbagai pihak. Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat, Juliadi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang Herkolanus Roni, Camat Kayan Hulu, Kepala Desa Merah Arai Martinus, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta tamu undangan dari berbagai daerah turut menghadiri kegiatan tersebut.
Ketua Sekolah Adat Dayak Kebahan, M. Darmansyah, menjelaskan sekolah adat lahir sebagai wadah untuk menghidupkan kembali warisan budaya yang mulai berkurang dalam kehidupan masyarakat.
“Sekolah adat ini bertujuan mengangkat kembali berbagai tradisi Dayak Kebahan yang mulai hilang, seperti seni tari, anyaman, kerajinan tangan, pengetahuan pengobatan tradisional, serta berbagai kearifan lokal lainnya. Semua itu memiliki nilai budaya, ekonomi, dan kesehatan yang perlu kami wariskan kepada generasi muda,” katanya, Senin (6/7).
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat, Juliadi, mengapresiasi lahirnya Sekolah Adat Dayak Kebahan. Menurutnya, masyarakat Dayak Kebahan masih menjaga kekayaan budaya yang autentik sehingga memiliki nilai penting sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.
“Kami berharap Sekolah Adat Dayak Kebahan menjadi model pelestarian budaya berbasis masyarakat yang mampu mengangkat kekayaan budaya Dayak Kebahan ke tingkat yang lebih luas sekaligus menjadi contoh bagi komunitas adat lainnya di Kalimantan Barat,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang, Herkolanus Roni. Ia mendorong sinergi antara sekolah adat dan pendidikan formal melalui muatan lokal. Menurutnya, langkah tersebut akan memperkuat pendidikan karakter sekaligus mengenalkan sejarah, bahasa, adat istiadat, seni budaya, dan pengetahuan tradisional Dayak Kebahan kepada peserta didik sejak usia dini.
Kepala Desa Merah Arai, Martinus, menegaskan pemerintah desa memberikan dukungan penuh terhadap keberadaan sekolah adat. “Kami berharap sekolah adat menjadi ruang belajar lintas generasi agar nilai-nilai budaya tetap hidup, berkembang, dan terus kami wariskan kepada anak cucu,” katanya.
Tokoh muda Dayak sekaligus penggagas Sekolah Adat Dayak Kebahan, Noven Honarius, menilai generasi muda membutuhkan ruang belajar yang mampu menghubungkan mereka dengan budaya leluhur.
Menurutnya, sekolah adat tidak hanya mengajarkan adat, sejarah, bahasa, seni, dan pengetahuan tradisional, tetapi juga membentuk karakter generasi muda.
“Melalui Sekolah Adat, generasi muda Dayak Kebahan kami harapkan memiliki arah hidup yang jelas serta tidak mudah terjerumus ke dalam budaya hura-hura, penyalahgunaan minuman keras, narkoba, maupun tindakan kriminal lainnya. Sekolah adat menjadi jembatan utama untuk menanamkan nilai-nilai budaya, menjaga norma yang hidup di tengah masyarakat, serta membentuk generasi Dayak yang berkarakter, berbudaya, dan mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya,” ujar Noven.
Sekolah Adat Dayak Kebahan lahir melalui kolaborasi masyarakat adat bersama berbagai pihak. M. Darmansyah, Martinus, Khairil, dan Noven Honarius menggagas pendirian sekolah tersebut, kemudian seluruh masyarakat Adat Telaga Padong Buket Dayak Kebahan memberikan dukungan hingga sekolah adat resmi berdiri.
Masyarakat berharap Sekolah Adat Dayak Kebahan mampu menjaga bahasa, sejarah, seni, pengetahuan tradisional, serta kearifan lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Kehadiran sekolah adat juga mempertegas komitmen masyarakat adat dalam memperkuat pembangunan kebudayaan nasional sekaligus menjaga identitas Dayak Kebahan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Penulis: Noven
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini










