Inspirasi Kalbar
Beranda Nasional Yeni Wahid dan Gelar di balik Women Of Inspiration 2026

Yeni Wahid dan Gelar di balik Women Of Inspiration 2026

Sumber:wikipedia

InspirasiKalbar, Jakarta – Sebuah penghargaan biasanya berakhir begitu nama pemenang dipanggil, trofi diserahkan, dan kamera mengabadikan momen itu. Namun cerita di balik sebuah penghargaan hampir selalu jauh lebih panjang.

Hal itulah yang menarik untuk dilihat dari Yenny Wahid. Direktur Wahid Foundation baru saja meraih penghargaan Women of Inspiration 2026 atas kontribusinya di bidang kemanusiaan, keadilan sosial, perdamaian, dan penguatan peran perempuan. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas perjalanan panjang yang ia tempuh, terutama dalam memperjuangkan toleransi dan perdamaian di Indonesia.

Di balik pencapaian itu, Yenny menjalani kehidupan dengan beberapa identitas sekaligus. Ia adalah seorang ibu, putri Presiden keempat Republik Indonesia Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan aktivis yang banyak menghabiskan waktu di ruang publik.

Nama belakangnya memang sudah lebih dulu dikenal masyarakat. Tumbuh sebagai putri Gus Dur berarti membawa warisan pemikiran yang kuat tentang demokrasi, kemanusiaan, dan keberagaman. Namun Yenny tidak berhenti pada status sebagai anak seorang tokoh nasional. Warisan itu ia bawa ke dalam pekerjaan yang lebih konkret.

Melalui Wahid Foundation, Yenny terlibat dalam berbagai upaya membangun masyarakat yang lebih toleran dan damai. Salah satunya adalah program Desa Damai yang mendorong masyarakat khususnya perempuanuntuk berperan aktif menciptakan lingkungan aman dan inklusif.

Pendekatan seperti ini membuat kerja Yenny tidak hanya berlangsung di ruang konferensi. Ada komunitas yang harus ditemui, kelompok masyarakat yang perlu diajak berdiskusi, dan persoalan lokal yang tak bisa diselesaikan sekadar dengan pidato.

Bagi masyarakat yang hidup di tengah keberagaman, toleransi bukan sekadar istilah dalam seminar. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari: ketika tetangga dari latar belakang berbeda tetap hidup berdampingan, ketika perempuan mendapat kesempatan mengambil keputusan di lingkungannya, atau ketika perbedaan keyakinan tidak menjadi alasan untuk saling menjauh.

Pekerjaan semacam ini jarang menjadi berita utama. Tidak semua proses membangun perdamaian menghasilkan foto menarik untuk media sosial. Sebagian besar justru berlangsung lewat percakapan panjang dan kerja komunitas yang hasilnya baru terlihat setelah waktu yang lama.

Tantangan itu semakin rumit di era media sosial. Hari ini, perbedaan pendapat bisa berubah menjadi konflik hanya dalam beberapa komentar. Informasi yang belum tentu benar menyebar dengan cepat, sementara ujaran kebencian sering lebih mudah menarik perhatian daripada percakapan yang tenang.

Yenny pernah menyoroti bagaimana hoaks dan ujaran kebencian di media sosial dapat membuat seseorang merasa terancam dan akhirnya memperkuat intoleransi. Dalam situasi seperti itu, menjaga ruang publik tetap terbuka menjadi pekerjaan yang tidak sederhana.

Bagi Yenny, persoalan utamanya bukan membuat semua orang berpikir sama. Indonesia justru dibangun dari perbedaan. Tantangannya adalah memastikan perbedaan itu tidak berubah menjadi alasan untuk saling membenci.

Pandangan ini sejalan dengan pendekatan Wahid Foundation yang melibatkan berbagai kelompok tokoh agama, masyarakat, perempuan, dan anak muda dalam upaya membangun perdamaian.

Namun ada sisi Yenny yang tak bisa dilepaskan dari ruang publik dan aktivismenya: keluarga. Menjadi ibu sambil mengerjakan pekerjaan yang menuntut perhatian penuh tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Begitu pula menjadi anak dari sosok sebesar Gus Dur. Ada nilai yang diwariskan keluarga, ada ekspektasi publik, dan ada kehidupan pribadi yang tetap harus berjalan di tengah kesibukan.

Pengalaman keluarganya sendiri turut membentuk pandangan Yenny tentang kesetaraan. Dalam sebuah diskusi pada 2025, ia menceritakan pola asuh di keluarga Gus Dur yang jauh dari pembagian peran berdasarkan konstruksi patriarki. Ia mengingat sang ayah turut mengerjakan pekerjaan domestik, termasuk mencuci piring dan mengganti popok anak.

Cerita itu terdengar sederhana. Namun dari hal-hal kecil seperti itulah nilai kesetaraan dapat terbentuk sejak seseorang berada di lingkungan keluarga.

Pengalaman tersebut kemudian menemukan bentuknya dalam kerja Yenny yang lebih luas. Isu perempuan tidak lagi hanya dilihat sebagai persoalan individu, melainkan juga terkait kesempatan mereka untuk ambil bagian dalam kehidupan sosial dan pembangunan masyarakat.

Itulah mengapa penghargaan Women of Inspiration 2026 tidak cukup dilihat sekadar sebagai pencapaian pribadi Yenny Wahid. Ada perjalanan panjang yang ikut membentuknya menjadi sosok yang dikenal publik hari ini.

Ada nama besar Gus Dur di belakangnya, tetapi ada pula jalan yang ia bangun sendiri. Ada peran sebagai ibu yang berjalan berdampingan dengan pekerjaannya di ruang publik. Ada pula tanggung jawab sebagai Direktur Wahid Foundation yang membuatnya terus berhadapan dengan persoalan keberagaman, intoleransi, dan perdamaian.

Semua peran itu tidak selalu mudah diseimbangkan. Namun justru di situlah sisi manusiawi Yenny terlihat. Ia bukan hanya sosok yang berbicara tentang toleransi di atas panggung, melainkan seseorang yang mencoba membawa gagasan itu ke dalam kehidupan masyarakat.

Penghargaan akhirnya menjadi sebuah pengakuan. Namun bagi Yenny, pekerjaan membangun perdamaian tentu tidak berhenti begitu penghargaan diterima. Sebab merawat toleransi bukanlah proyek yang memiliki tanggal selesai.

Di tengah media sosial yang semakin mudah membuat orang terpecah hanya karena berbeda pandangan, pekerjaan mempertemukan kembali orang-orang yang berbeda menjadi semakin penting.

Dan mungkin, jika ada satu hal yang menjelaskan perjalanan Yenny Wahid hingga menerima gelar Woman of Inspiration 2026, jawabannya bukan sekadar penghargaan itu sendiri. Melainkan keberaniannya untuk tetap menjadi jembatan di tengah masyarakat yang semakin mudah dipisahkan. (Rida Ulkibria)

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
mancingjitu