Bukan Sekedar Bertukar Senyum, Jakarta-Bucheon Menyusun Masa Depan

InspirasiKalbar,Jakarta – Pertemuan antara Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wali Kota Bucheon, Korea Selatan, Cho Yong-eek, di Balai Kota Jakarta pada 28 Agustus 2026 tampak sederhana. Dua pemimpin kota duduk berdampingan, berbincang, dan membicarakan sejumlah peluang kerja sama.
Namun, di balik pertemuan tersebut tersimpan agenda yang jauh lebih besar: bagaimana dua kota yang berbeda negara dapat saling belajar dan mengubah hubungan antarkota menjadi kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pramono menyebut Bucheon memiliki pengalaman menarik dalam pengembangan smart city, kebudayaan, dan pelayanan kesehatan. Karena itu, Jakarta tidak ingin sekadar menjadi tuan rumah kunjungan delegasi dari Korea Selatan. Jakarta ingin mengambil pelajaran dari pengalaman Bucheon dan membuka ruang pertukaran pengetahuan.
Jakarta adalah kota dengan persoalan perkotaan yang kompleks. Kepadatan penduduk, mobilitas masyarakat, kebutuhan pelayanan publik, hingga tuntutan terhadap layanan kesehatan membuat pemerintah dituntut mencari cara baru agar kota dapat bekerja lebih cepat dan efisien.
Kota di Provinsi Gyeonggi tersebut dikenal aktif mengembangkan teknologi perkotaan dan memiliki ekosistem pelayanan kesehatan yang menjadi salah satu perhatian dalam kunjungan delegasinya ke Indonesia. Pramono membuka peluang agar tenaga kesehatan Jakarta dapat belajar langsung dari pengalaman Bucheon.
Gagasan tersebut terlihat sederhana, tetapi memiliki arti strategis. Pertukaran tenaga profesional bukan hanya soal mengirim seseorang untuk belajar di luar negeri. Lebih jauh, transfer pengetahuan dapat menjadi cara untuk membawa pulang pengalaman, sistem kerja, teknologi, hingga budaya pelayanan yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan Jakarta. Bagi Jakarta, kerja sama seperti ini menjadi penting ketika kota tersebut terus membangun citra sebagai kota global.
Sementara bagi Bucheon, Indonesia merupakan pasar yang semakin menarik. Dalam kunjungan delegasinya, sebanyak sembilan perusahaan dan delapan institusi medis dari Bucheon mengikuti forum bisnis dengan 62 perusahaan calon mitra di Indonesia. Tercatat 192 konsultasi bisnis dilakukan dalam forum tersebut. Artinya, hubungan Jakarta dan Bucheon tidak berhenti pada seremoni diplomasi kota. Ada kepentingan ekonomi dan peluang bisnis yang mulai dibicarakan secara konkret.
Bidang kesehatan menjadi salah satu pintu yang paling menjanjikan. Delegasi Bucheon juga melihat langsung sejumlah fasilitas kesehatan dan kawasan potensial di Indonesia. Kunjungan tersebut antara lain diarahkan untuk melihat ekosistem layanan medis sekaligus menjajaki kemungkinan pengembangan kerja sama jangka panjang di bidang kesehatan dan pendidikan.
Bagi Jakarta, kerja sama kesehatan dapat memberikan keuntungan ganda. Pertama, peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pertukaran pengalaman dan pengetahuan.
Kedua, terbukanya peluang investasi serta kolaborasi antara institusi kesehatan Indonesia dan Korea Selatan.
Di tengah perkembangan teknologi kesehatan yang semakin cepat, hubungan seperti ini dapat menjadi modal penting. Rumah sakit, tenaga medis, lembaga pendidikan, dan perusahaan teknologi kesehatan dapat menjadi bagian dari ekosistem kerja sama yang lebih luas.
Dengan demikian, hubungan Jakarta–Bucheon bukan hanya hubungan antara dua kantor pemerintahan. Ia dapat berkembang menjadi hubungan antarlembaga dan antarmasyarakat.
Pramono dan Cho membicarakan kedekatan anak muda Jakarta dengan budaya Korea. Fenomena Korean Wave mulai dari musik, film, drama hingga gaya hidup telah membuat Korea Selatan memiliki tempat tersendiri di kalangan generasi muda Indonesia. Jakarta melihat fenomena tersebut bukan sekadar sebagai tren hiburan. Budaya dapat menjadi diplomasi yang mempertemukan masyarakat tanpa harus melalui bahasa politik yang rumit.
Hubungan tersebut semakin menarik karena Jakarta dan Bucheon sama-sama memiliki status sebagai UNESCO Creative City of Literature. Kedua kota juga telah membangun hubungan kebudayaan melalui kegiatan seperti Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) dan Jakarta Film Week.
BIFAN sendiri bukan festival kecil. Pada 2026, festival tersebut memasuki penyelenggaraan ke-30 dengan menghadirkan 321 film dari 50 negara. Di titik inilah film menjadi lebih dari sekadar tontonan.
Pertemuan Pramono dan Cho menunjukkan arah baru hubungan antarkota: kerja sama tidak cukup hanya dituangkan dalam pernyataan pers atau agenda kunjungan. Kerja sama harus menghasilkan sesuatu.
Jakarta dapat belajar dari Bucheon dalam pengembangan kota berbasis teknologi dan pelayanan publik. Bucheon, di sisi lain, dapat memperoleh ruang lebih luas untuk mengenalkan perusahaan, institusi kesehatan, serta industri kreatifnya ke pasar Indonesia.
Pertukaran tersebut menciptakan hubungan yang saling menguntungkan. Bagi Jakarta, pengalaman Bucheon dapat menjadi referensi untuk membangun kota yang lebih adaptif terhadap teknologi.
Bagi Bucheon, Jakarta merupakan pintu menuju salah satu negara dengan pasar terbesar di Asia Tenggara.
Karena itu, kunjungan Cho Yong-eek ke Jakarta dapat dibaca sebagai bagian dari upaya memperluas hubungan ekonomi dan kesehatan antara kedua kota. Pemerintah Bucheon bahkan menyatakan ingin menghubungkan perusahaan dan institusi medisnya dengan pasar Indonesia secara lebih konkret.
Pada akhirnya, keberhasilan kerja sama Jakarta–Bucheon tidak akan ditentukan oleh foto bersama di meja pertemuan. Ujian sebenarnya justru berada setelah pertemuan berakhir.
Apakah tenaga kesehatan Jakarta benar-benar mendapatkan kesempatan belajar di Bucheon?
Apakah pertukaran pengetahuan tentang smart city menghasilkan inovasi yang bisa diterapkan di Jakarta?
Apakah kerja sama film mampu membuka ruang lebih besar bagi sineas muda kedua kota?
Dan yang paling penting, apakah hubungan tersebut dapat memberikan manfaat yang dirasakan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah pertemuan tersebut hanya menjadi catatan diplomasi atau justru menjadi awal dari hubungan strategis jangka panjang.
Jakarta dan Bucheon kini memiliki modal awal: kesamaan visi di bidang kreatif, pengalaman dalam pengembangan kota, serta peluang kerja sama kesehatan dan ekonomi. Tinggal bagaimana modal tersebut diterjemahkan menjadi program nyata.
Sebab, hubungan antarkota yang kuat bukanlah tentang seberapa sering para pejabat bertemu. Ia diukur dari seberapa banyak pengetahuan yang berpindah, peluang yang terbuka, dan manfaat yang akhirnya sampai kepada masyarakat.
Jika Jakarta mampu mengambil pelajaran dari pengalaman Bucheon, sementara Bucheon menemukan ruang tumbuh di Indonesia, maka pertemuan di Balai Kota itu bisa menjadi lebih dari sekadar kunjungan diplomatik. Ia bisa menjadi awal dari sebuah kemitraan baru Jakarta–Korea Selatan yang bergerak dari ruang pertemuan menuju kehidupan nyata warga kota.(Fahrodin)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini



