Inspirasi Kalbar
Beranda Lifestyle Menembus Batas untuk Mengejar Mimpi

Menembus Batas untuk Mengejar Mimpi

 

 

InspirasiKalbar, Cerpen – Malam itu, di sebuah sudut desa yang paling sunyi, hanya ada suara jangkrik dan derit bambu yang tertiup angin. Di dalam kamar berdinding papan yang mulai lapuk dan berlumut hitam, seorang gadis bernama Maya menatap selembar kertas lusuh di atas meja kayunya. Surat penerimaan mahasiswa baru dari universitas negeri di kota itu tampak begitu jelas, namun pandangan Maya kabur oleh air mata yang terus menetes.

Dari luar kamar, terdengar langkah kaki terseret disusul suara batuk berat yang terengah-engah. Bapaknya baru saja pulang dari sawah.

Maya bergegas menghapus air matanya, lalu melangkah keluar kamar menghampiri lelaki tua itu. “Bapak baru pulang? Bapak belum makan, kan? Maya panaskan nasi dulu ya, Pak.”

Bapaknya mendesah pelan sembari menyapu keringat di dahinya dengan kain sarung lusuh. Beliau melirik selembar kertas yang dipegang erat oleh Maya.
“Bapak sudah tidak lapar,” ucap bapaknya dengan suara serak dan berat. “Bagaimana surat yang kamu terima tadi siang? Apakah itu surat dari kota?”

Maya menunduk, meremas pelan pinggiran kertas itu. “Iya, Pak. Maya… Maya diterima di jurusan teknik Universitas negeri di kota.”

Lelaki tua itu menghentikan gerakannya yang hendak melepas caping. Beliau menatap Maya dengan pandangan sayu, lalu tertunduk dalam-dalam. Tangannya yang kasar, pecah-pecah, ada sedikit lumpur, dan masih memegang erat gagang cangkul yang tersandar di dinding.

“Kamu itu perempuan, Maya. Di kampung kita ini, lulus SMA saja sudah syukur luar biasa,” ucap bapaknya pelan, setiap kata terasa begitu berat keluar dari tenggorokannya. “Bapak sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dijual, Nak. Tanah sepetak ini cuma cukup buat kita makan besok. Jangankan untuk membayar uang pangkal kuliah yang jutaan rupiah, untuk makan sehari-hari dan membeli obat Bapak saja kita harus menghitung recehan di celengan tanah liat itu.”

Maya menyapu air matanya dengan ujung lengan baju yang sudah memudar warnanya. Dia mendekati bapaknya dan menggenggam tangan tua yang gemetar itu. “Maya tidak marah sama Bapak. Maya tahu betapa kerasnya Bapak mencangkul tanah tiap hari demi Maya sejak Ibu meninggal.”

“Tapi Bapak merasa gagal jadi seorang ayah, Ya…” bisik bapaknya dengan mata yang berkaca-kaca. “Bapak tidak sanggup membiayai mimpi-mimpimu.”

“Tidak, Pak! Jangan pernah bilang begitu!” tegas Maya, suaranya bergetar menahan tangisnya. Maya mendongak, menatap ke arah atap seng rumah mereka yang bocor. Di sela-sela lubang kecil itu, tampak titik-titik lampu pesawat terbang tinggi melintasi langit malam. “Lihat pesawat itu, Pak. Maya tidak akan pernah menyerah pada nasib. Suatu hari nanti, Maya janji… Maya pasti bisa berada di atas sana. Maya akan terbang dan membawa Bapak ikut bersama Maya.”

Bapaknya hanya bisa mengelus rambut Maya dengan tangan kasarnya tanpa mampu mengucap sepatah kata pun. Karena tidak bisa langsung melanjutkan kuliah, Maya memilih merajut jalan hidupnya sendiri. Pagi hingga siang hari, dia bekerja sebagai penjaga toko kelontong di pasar desa. Sore harinya, dia mengumpulkan anak-anak tetangga di teras rumahnya untuk belajar membaca dan berhitung.

Setiap akhir pekan, Maya menumpang truk pengangkut sayur menuju kota Kabupaten. Dia duduk terguncang-guncang di antara tumpukan kubis dan cabai hanya demi satu tujuan: meminjam dan membaca buku di perpustakaan daerah. Malam harinya, di bawah temaram lampu teplok yang sering membuat hidungnya hitam terkena jelutut minyak tanah, Maya belajar tanpa kenal lelah.

“Eh, Maya! Untuk apa perempuan belajar sampai larut malam begitu?” cibir Bu Sumi, seorang tetangga yang melintas di depan rumahnya saat melihat Maya tekun mencatat di teras. “Nanti kalau sudah menikah juga ujung-ujungnya ke dapur dan mengurus sumur! Jangan buang-buang waktu, mending cari suami yang kaya!”

Maya menghentikan tulisannya sejenak, lalu mendongak dan memberikan senyuman paling ramah. “Terima kasih nasihatnya, Bu Sumi. Tapi bagi saya, ilmu tidak pernah buang-buang waktu. Dapur bisa kita urus, tapi mimpi juga harus tetap kita kejar.”

Bu Sumi hanya mengibaskan tangannya sembari mencibir. “Halah, gaya betul! Mau jadi apa kamu dengan buku-buku bekas itu?”

Maya tidak membalas lagi. Dia kembali menunduk, menghafal ribuan kosakata bahasa Inggris dari buku bekas berhalaman robek yang dibelinya dari pasar loak. Cemoohan itu tidak pernah mengecilkan hatinya; justru menjadi bahan bakar yang membakar semangatnya semakin membara. Kerja keras yang sunyi itu akhirnya membuahkan hasil. Setelah puluhan kali menelan penolakan berkas, Maya berhasil menembus beasiswa penuh program S1 di sebuah Universitas negeri bergengsi di ibukota.

Hari keberangkatannya tiba. Di tepi jalan raya desa, bapaknya berdiri mengantar dengan wajah haru.

“Bapak… Maya pamit ya,” ujar Maya dengan mata berkaca-kaca sembari mencium tangan bapaknya.

Lelaki tua itu memeluk Maya sangat erat, seolah tak ingin melepaskannya. “Hati-hati di kota orang, Nak. Jangan lupa ibadah, jangan lupa makan. Buktikan kalau anak petani miskin seperti kamu juga bisa sukses!”

“Pasti, Pak. Maya janji akan belajar sungguh-sungguh,” bisik Maya di bahu bapaknya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup Maya, dia melihat bapaknya menangis sesenggukan hingga tubuh rentanya berguncang, saat bus antarkota perlahan bergerak membawanya pergi.

Di kampus ibukota, Maya menjelma menjadi mahasiswa yang pantang menyerah. Dia dijuluki “hantu perpustakaan” karena selalu menjadi orang terakhir yang keluar dari gedung perpustakaan. Untuk menyambung hidup dan mengirim uang berobat bapaknya di kampung, Maya bekerja sebagai asisten laboratorium dan penerjemah lepas.

Ketekunan dan kecerdasan akademisnya membuat para dosen terpukau. Peluang demi peluang kembali terbuka. Maya berhasil meraih Beasiswa Unggulan untuk program Magister (S2) hingga akhirnya meraih gelar Doktor (S3) di bidang Teknik Penerbangan di salah satu Universitas ternama di Eropa.

Namun, di puncak studi S3-nya—di saat disertasinya tentang aerodinamika penerbangan hampir selesai—sebuah gejolak hebat berkecamuk di dalam dadanya.

“Maya, artikel ilmiahmu tentang efisiensi sayap pesawat baru saja diterima di jurnal Internasional! Ini luar biasa!” puji Profesor Schmidt, dosen pembimbingnya, di dalam laboratorium penerbangan di Eropa.

“Terima kasih banyak, Profesor,” jawab Maya tersenyum. Namun, pandangannya justru tertuju pada jendela laboratorium, menatap pesawat udara yang melintas menembus awan.

“Ada apa, Maya? Kamu tampak memikirkan sesuatu,” tanya Profesor Schmidt heran.

Maya menarik napas panjang. “Profesor… apakah aneh jika setelah menyelesaikan S3 ini, saya ingin mendaftar ke akademi penerbangan untuk menjadi pilot?”

Profesor Schmidt belari kecil menghampirinya, matanya melotot terkejut. “Apa? Kamu ini calon Doktor Teknik Penerbangan! Kamu bisa menjadi peneliti hebat atau merancang pesawat masa depan! Untuk apa kamu mulai lagi dari nol untuk jadi pilot?”

“Memahami teori aviasi, rumus matematika rumit, dan merancang struktur pesawat di atas kertas itu tidak cukup bagi saya, Profesor,” ujar Maya dengan mata berbinar dengan tekad yang membara. “Hati saya selalu bergetar setiap mendengar gemuruh mesin jet. Saya tidak hanya ingin merancang burung besi itu; saya ingin mengendalikannya sendiri. Saya ingin menembus awan yang dulu hanya bisa saya pandangi dari atap rumah saya yang bocor di desa.”

Profesor Schmidt menatap murid terbaiknya itu lama sekali, lalu akhirnya menghela napas dan tersenyum bangga. “Jika itu memang mimpimu yang terdalam, kejarlah, Maya. Kamu adalah orang paling gigih yang pernah saya kenal.”

Pelatihan di akademi penerbangan (Flight Academy) ternyata jauh lebih berat dari yang dibayangkan. Fisik dan mental Maya diuji habis-habisan setiap hari.

“Hei, Maya! Kamu yakin kuat menahan G-force saat latihan manuver ini?” ejek seorang siswa pilot laki-laki dari Eropa saat mereka bersiap di hanggar. “Kamu itu perempuan Asia, tubuhmu kecil begitu. Yakin tidak mau menyerah saja dan kembali ke mejaku sebagai ilmuwan?”

Maya tidak terprovokasi. Dia merapikan sabuk pengamannya di dalam kokpit simulator dan menatap lurus ke depan. “Ukuran tubuh dan latar belakang tidak menentukan siapa yang bisa menguasai langit, David. Keterampilan dan tekad yang menentukan.”

“Kita lihat saja nanti di udara!” seru David meremehkan.

Saat latihan berlangsung, cuaca buruk buatan disimulasikan. Angin kencang dan turbulensi hebat membuat kapal latihan berguncang keras. Mual luar biasa menghantam dada Maya, panik sempat menyergap saat instrumen navigasi berkedip cepat.

“Maya! Kendalikan sudat serang! Jangan sampai stall!” teriak instruktur melalui headset.

Di saat-saat paling kritis, saat tubuhnya gemetar dan rasanya ingin memuntahkan seluruh isinya, Maya memejamkan mata sejenak. Di dalam kegelapan mimpinya, dia mendengar kembali derit bambu di desanya, melihat wajah lelah bapaknya yang menua di bawah lampu teplok, dan janji yang pernah dia ucapkan.

“Tidak… aku tidak akan menyerah di sini!” bisik Maya pada dirinya sendiri.
Maya membuka matanya lebar-lebar. Tangan kecilnya memegang kendali dengan begitu mantap. Tangannya bergerak cepat, menyesuaikan dan menyetabilkan posisi pesawat di tengah badai simulasi.

“Landing terkonfirmasi. Pendaratan sempurna!” suara instruktur terdengar kagum melalui radio.

“Kerja bagus, Cadeth Maya! Manuver yang luar biasa!”

David yang menyaksikan pendaratan itu dari ruang kontrol hanya bisa melongo, tak mampu berkata apa-apa lagi. Maya keluar dari kokpit dengan menyapu keringat di dahinya, tersenyum puas.

Di suatu pagi yang cerah bertabur cahaya matahari, sebuah pesawat komersial berbadan lebar jenis Boeing 878 baru saja mendarat dengan sangat mulus di landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta setelah menempuh perjalanan belasan jam melintasi Samudra Pasifik. Suara deru mesin perlahan mengecil saat pesawat melakukan taxiing menuju apron.

Di dalam kokpit yang penuh dengan puluhan tombol dan layar digital yang rumit, seorang wanita dengan seragam putih tegas, celana kain hitam rapi, dan empat garis emas di pundaknya perlahan melepas headset penerbangannya.

“Pendaratan yang sangat halus, Kapten,” puji Co-Pilot yang duduk di sampingnya. “Terbang bersamamu selalu terasa sangat aman.”

Maya tersenyum hangat. “Terima kasih, First Officer. Kamu melakukan navigasi dengan sangat baik hari ini.”

Penerbangan hari ini bukan sekadar tugas rutin baginya. Ini adalah penerbangan perdananya sebagai Kapten Utama yang luar biasa. Saat proses pemuatan bagasi selesai dan para penumpang bersiap untuk turun, Maya melangkah keluar dari ruangan kokpit. Dengan langkah kaki yang mantap namun dada berdegup kencang, dia menyusuri lorong kabin. Langkahnya mendadak terhenti saat matanya menangkap sosok lelaki tua di baris depan.

Di sana duduk bapaknya. Lelaki tua itu mengenakan kemeja batik terbaiknya—kemeja yang dulu dibeli di pasar desa dan tampak agak kebesaran di tubuhnya yang semakin kurus. Rambut bapak sudah memutih seluruhnya, dan tangannya yang gemetar memegang erat sabuk pengaman.

Maya tidak peduli lagi dengan formalitas seragam kaptennya. Dia langsung berlutut di lorong kabin, tepat di samping kursi bapaknya. Maya meraih tangan tua yang kasar dan penuh kapalan itu—tangan yang puluhan tahun lalu pantang menyerah digunakan untuk mencangkul tanah demi mengusahakan sesuap nasi dan selembar buku untuknya.

“Bapak…” bisik Maya dengan suara yang pecah oleh tangis haru. Air matanya berjatuhan, menetes menimpa jemari bapaknya.

Lelaki tua itu menatap Maya dengan mata yang berkaca-kaca, dadanya naik turun menahan gemuruh emosi. “Maya… Ini beneran anak Bapak?”

“Iya, Pak. Ini Maya,” ucap Maya sembari mencium tangan bapaknya lama sekali, menyerap rasa rindu dan terima kasih yang tak terhingga. “Maya sudah sampai di atas awan, Pak. Maya yang menerbangkan burung besi besar ini tadi… Maya sudah menepati janji Maya untuk membawa Bapak ikut terbang bersama Maya.”

Bapaknya tidak mampu mengucapkan banyak kata. Tenggorokannya tersumbat oleh rasa bangga yang luar biasa hebat. Lelaki tua itu hanya merengkuh kepala putrinya, memeluk tubuh tegak berbalut seragam kapten itu dengan sisa-sisa tenaga tuanya.

“Anakku… Kaptenku…” bisik bapaknya dengan suara berguncang keras. Beliau mencium puncak kepala Maya berulang kali. “Bapak bangga sekali sama kamu, Nak… Maafkan Bapak yang dulu sempat meragukan mimpimu…”

“Tidak, Pak. Bapak tidak pernah salah,” tangis Maya semakin pecah di pangkuan bapaknya.

“Bapak adalah alasan Maya bisa berdiri kokoh di sini hari ini.”

“Terima kasih, Nak… Terima kasih sudah membawa Bapak melihat indahnya langit…” tutur bapaknya seraya menyapu air mata di pipi Maya.

Beberapa penumpang dan awak kabin yang menyaksikan momen tersebut tak sanggup menahan rasa haru.

“Luar biasa, Kapten! Sungguh perjuangan yang menginspirasi!” seru salah seorang penumpang senior dari barisan belakang.

Tepuk tangan riuh pelan-pelan membahana di dalam pesawat, menyambut kemenangan sebuah perjuangan panjang yang dimulai dari sebuah kamar lapuk di desa terpencil. Di dalam pelukan hangat bapaknya, bayangan tentang gadis kecil yang menangis meratapi nasib di bawah temaram lampu teplok kini telah terhapus sepenuhnya.

Maya tidak lagi hanya bisa berdiri di tanah, menatap impian yang melintas jauh di langit malam. Kini, dialah kapten kehidupan itu sendiri—sosok yang berhasil menundukkan takdir, membawa nama bapaknya, dan menembus ribuan mil awan untuk menggapai cita-cita setinggi langit. (Siti Nurhayati)

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
https://mancingjitu.com/