Kenapa Gen Z Sering Merasa Harus Punya Banyak Hal di Usia 20-an?
InspirasiKalbar, Jakarta – Memasuki usia 20-an sering beriringan dengan berbagai perubahan dalam kehidupan. Setelah menyelesaikan sekolah atau kuliah, seseorang mulai berhadapan dengan pilihan mengenai pekerjaan, pendidikan, keuangan, hubungan, hingga tempat tinggal. Pada periode yang sama, pencapaian teman sebaya juga semakin mudah terlihat melalui media sosial. Foto wisuda, pekerjaan baru, perjalanan, pembelian kendaraan, hubungan, hingga pencapaian finansial dapat muncul dalam satu linimasa. Situasi tersebut membuat sebagian anak muda membandingkan perjalanan hidupnya dengan orang lain. Ketika melihat teman yang dianggap sudah lebih dahulu mencapai sesuatu, muncul pertanyaan mengenai pencapaian pribadi dan arah kehidupan pada usia yang sama.
Generasi Z merupakan salah satu kelompok penduduk terbesar di Indonesia. Berdasarkan Sensus Penduduk 2020, penduduk yang termasuk Generasi Z, yaitu mereka yang lahir pada 1997–2012, mencapai 27,94 persen dari total penduduk Indonesia. Kelompok ini tumbuh ketika internet, perangkat digital, dan media sosial berkembang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Usia 20-an dan Banyaknya Pilihan
Usia 20-an merupakan periode ketika seseorang mulai menghadapi berbagai keputusan yang berkaitan dengan kehidupan pribadi dan profesional. Setelah menyelesaikan pendidikan, misalnya, seseorang dapat memilih untuk langsung bekerja, melanjutkan pendidikan, menjalankan usaha, mengikuti pelatihan, atau mencoba bidang pekerjaan yang berbeda. Pilihan mengenai tempat tinggal dan pengelolaan pendapatan juga mulai muncul ketika seseorang memasuki dunia kerja.
Tidak semua orang menjalani tahapan tersebut pada usia yang sama. Sebagian orang mendapatkan pekerjaan tidak lama setelah lulus. Sebagian lainnya membutuhkan waktu lebih panjang untuk mencari pekerjaan. Ada pula yang berpindah bidang, kembali menempuh pendidikan, atau masih mencoba menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Perbedaan tersebut kemudian berdampingan dengan informasi mengenai pencapaian orang lain yang tersedia di media sosial.
Ketika Media Sosial Menjadi Etalase Kehidupan
Media sosial memungkinkan seseorang melihat berbagai aktivitas orang lain dalam waktu singkat. Unggahan mengenai pekerjaan, pendidikan, perjalanan, hubungan, gaya hidup, maupun pencapaian tertentu dapat muncul secara berurutan. Konten yang muncul biasanya menampilkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang.
Sebuah unggahan dapat memperlihatkan seseorang ketika mendapatkan pekerjaan baru, tanpa menampilkan proses pencarian pekerjaan sebelumnya. Foto perjalanan dapat menunjukkan tujuan wisata dan aktivitas selama liburan tanpa menjelaskan keseluruhan kondisi keuangan di balik perjalanan tersebut.
Pola konsumsi konten seperti ini membuat kehidupan orang lain terlihat melalui potongan-potongan tertentu. Ketika berbagai pencapaian muncul secara bersamaan di media sosial, perbandingan dengan kehidupan pribadi dapat terjadi dengan lebih mudah.
Perbandingan tersebut juga dapat meluas dari satu aspek kehidupan ke aspek lainnya. Pekerjaan dapat dibandingkan dengan pekerjaan teman, kondisi finansial dengan teman sebaya, hingga pengalaman hidup dengan orang-orang dalam lingkungan sosial yang sama.
Tekanan Tidak Hanya Berasal dari Karier
Pembahasan mengenai pencapaian pada usia 20-an tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan. Pendidikan, kondisi finansial, hubungan, penampilan, tempat tinggal, dan pengalaman juga menjadi bagian dari kehidupan yang sering ditampilkan di media sosial. Konten mengenai traveling, olahraga, perawatan diri, kuliner, kegiatan sosial, hingga pembelian barang tertentu dapat menjadi bagian dari keseharian pengguna media sosial.
Perbedaan kemampuan finansial membuat pengalaman setiap orang tidak sama. Kebutuhan hidup, pendapatan, tanggungan keluarga, biaya pendidikan, dan kondisi tempat tinggal juga dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam menggunakan uang.
Persoalan finansial menjadi salah satu perhatian yang banyak muncul dalam kelompok usia muda. Survei Deloitte 2025 terhadap Gen Z dan milenial di berbagai negara menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen responden menyebut kondisi keuangan sehari-hari dan masa depan finansial sebagai faktor yang berkontribusi terhadap rasa cemas atau stres. Dalam survei yang sama, 48 persen responden Gen Z menyatakan belum merasa aman secara finansial. Data tersebut merupakan gambaran responden dari berbagai negara dan tidak secara khusus menggambarkan seluruh Gen Z di Indonesia. Namun, hasil survei tersebut menunjukkan bahwa persoalan finansial menjadi salah satu isu yang muncul dalam kehidupan kelompok usia muda secara global.
Perbedaan Kondisi Membentuk Perbedaan Pencapaian
Dua orang dengan usia yang sama dapat menjalani kondisi kehidupan yang berbeda. Latar belakang pendidikan, kesempatan kerja, kondisi keluarga, tempat tinggal, pendapatan, dan tanggung jawab dapat memengaruhi pilihan serta pencapaian seseorang. Seseorang yang mulai bekerja pada usia 21 tahun memiliki pengalaman yang berbeda dengan orang yang baru memperoleh pekerjaan pada usia 24 tahun. Begitu pula dengan seseorang yang sudah memiliki tabungan, kendaraan, atau tempat tinggal sendiri dibandingkan dengan orang yang masih tinggal bersama keluarga. Perbedaan tersebut membuat pencapaian pada usia tertentu tidak dapat dilepaskan dari kondisi masing-masing individu.
BPS mendefinisikan Generasi Z sebagai penduduk yang lahir pada 1997–2012. Dengan rentang kelahiran tersebut, Generasi Z mencakup kelompok usia yang cukup beragam, mulai dari remaja hingga orang yang berada pada akhir usia 20-an. Perbedaan usia di dalam kelompok tersebut juga berkaitan dengan perbedaan tahap kehidupan. Anak muda yang baru memasuki perguruan tinggi tentu menghadapi kebutuhan yang berbeda dengan mereka yang sudah bekerja dan memiliki tanggungan finansial.
Pencapaian yang Terlihat dan yang Tidak Terlihat
Media sosial membuat sejumlah pencapaian lebih mudah didokumentasikan. Kelulusan dapat diunggah dalam bentuk foto wisuda. Pekerjaan baru dapat diumumkan melalui unggahan profesional. Perjalanan dapat dibagikan melalui foto dan video. Pembelian barang tertentu juga dapat muncul dalam konten sehari-hari. Sementara itu, proses yang berlangsung di balik pencapaian tersebut tidak selalu terlihat.
Perjalanan pendidikan berlangsung selama bertahun-tahun. Proses mencari pekerjaan dapat berlangsung dalam waktu yang berbeda bagi setiap orang. Menabung juga merupakan aktivitas yang berlangsung secara bertahap dan tidak selalu ditampilkan dalam media sosial. Perbedaan antara apa yang terlihat dan apa yang tidak terlihat tersebut menjadi salah satu karakteristik komunikasi di media sosial. Pengguna dapat memilih bagian kehidupan tertentu untuk dibagikan kepada publik. Karena itu, satu unggahan tidak menggambarkan seluruh kondisi kehidupan seseorang.
Kebiasaan Membandingkan Diri di Era Digital
Perbandingan sosial bukan fenomena yang sepenuhnya baru. Namun, perkembangan media sosial membuat seseorang memiliki akses lebih luas terhadap kehidupan orang lain.
Sebelum media sosial berkembang seperti sekarang, informasi mengenai pencapaian teman atau kenalan lebih banyak diperoleh melalui interaksi langsung. Saat ini, informasi tersebut dapat muncul secara rutin melalui berbagai platform digital. Jumlah informasi yang diterima juga dapat meningkat ketika seseorang mengikuti banyak akun dengan jenis konten yang serupa. Konten mengenai karier, finansial, gaya hidup, pendidikan, atau hubungan dapat muncul berulang kali dalam satu hari. Paparan tersebut membuat standar kehidupan tertentu lebih sering terlihat dalam keseharian pengguna media sosial.
Pada kelompok usia muda, pembahasan mengenai pencapaian kemudian dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari pekerjaan pertama hingga kemampuan membeli kebutuhan tertentu secara mandiri.
Tidak Semua Pencapaian Berlangsung Bersamaan
Pencapaian seseorang pada usia 20-an tidak berlangsung dalam pola yang sama. Ada yang lebih dahulu menyelesaikan pendidikan. Ada yang mulai bekerja lebih cepat. Ada yang fokus membangun usaha. Ada yang melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Sebagian lainnya masih mencoba beberapa bidang sebelum menentukan pilihan. Perbedaan tersebut juga terlihat dalam kondisi finansial dan kehidupan pribadi. Seseorang dapat memiliki karier yang berkembang tetapi belum memiliki tabungan besar. Orang lain mungkin memiliki tabungan tetapi masih mencari pekerjaan yang sesuai. Ada pula yang sedang membantu kebutuhan keluarga sehingga prioritas keuangannya berbeda dengan teman sebaya. Karena itu, satu ukuran pencapaian tidak dapat menggambarkan seluruh kondisi Generasi Z.
Gen Z dan Ekspektasi pada Usia 20-an
Generasi Z berada dalam lingkungan digital yang memungkinkan berbagai informasi mengenai kehidupan orang lain diakses setiap hari. Bersamaan dengan itu, kelompok ini juga menghadapi berbagai keputusan terkait pendidikan, pekerjaan, finansial, hubungan, dan kehidupan pribadi.
Sensus Penduduk 2020 mencatat jumlah Generasi Z mencapai 27,94 persen dari populasi Indonesia. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya kelompok usia muda dalam struktur penduduk Indonesia. Dengan karakteristik dan kondisi kehidupan yang beragam, pengalaman Gen Z pada usia 20-an juga tidak seragam. Ada yang sedang membangun karier, menyelesaikan pendidikan, mencari pekerjaan, mengembangkan usaha, membantu keluarga, atau menjalani beberapa proses tersebut secara bersamaan.
Media sosial kemudian menjadi salah satu tempat ketika berbagai perjalanan tersebut terlihat berdampingan. Pencapaian yang berbeda dapat muncul dalam satu linimasa dan membentuk gambaran mengenai kehidupan pada usia 20-an. Di tengah banyaknya informasi tersebut, perjalanan setiap individu tetap dipengaruhi oleh kondisi masing-masing. Usia yang sama tidak selalu berarti memiliki titik awal, kesempatan, tanggung jawab, maupun pencapaian yang sama. (Jihan Syaswina Aprilia)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini













